Wisata Nomadik di Bandung Jadi Unggulan

Berita Terkini


BANDUNG, (PR).- Kabupaten Bandung yang kaya dengan wisata alamnya diyakini akan terus menjadi incaran para wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Seiring dengan hal itu, terus dikembangkan destinasi digital (digital destination) dan wisata yang bisa berpindah-pindah atau nomadic tourism berupa glam camp, home pod, dan caravan.

Hal itu terungkap dalam temu dialog terkait acara Outbound Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) bertema “Peningkatan pemahaman bidang pariwisata bagi jurnalis tahun 2018”, di kawasan wisata Rancabali, Ciwidey, Kabupatem Bandung, Kamis 2 Agustus 2018.

Paparan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Agus Firman Zaeni, Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata Guntur Sakti, dan Manajer Glamping Lakeside Lutfi Naufal.

Kegiatan outbound yang diikuti 50 wartawan itu diisi dengan aktivitas team building di Ranca Upas Camp, kunjungan wisata ke Orchid Forest Cikole, Teras Bintang & Baklon Camping Adventure untuk berburu sunset, kebun teh, dan Green Forest.

loading...

Pada kesempatan itu juga dilakukan lomba foto dengan obyek wisata sekitar Ciwidey dan Glamping Lakeside Rancabali.

Agus mengatakan, keberadaan destinasi wisata di Kabupaten Bandung yang didominasi oleh keindahan alam diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Namun, untuk memacu pembangunan pariwisata di daerah tersebut dibutuhkan kejelian, kesabaran, dan kerja keras.

“Dinas Pariwisata ini baru berumur 1,5 tahun, terus daerah tetangga juga mempunyai wisata sejenis yang mengandalkan alam, seperti Kabupaten Bandung Barat, Garut, dan Tasikmalaya. Jadi, kita harus pandai mengemasnya,” ujar Agus yang bertekad memajukan sektor wisata di daerahnya termasuk pengembangan wisata halal yang akan bekerjasama dengan Masjid Salman ITB.

Kemenpar akan mengembangkan nomadic tourism di empat destinasi prioritas yaitu Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan Borobudur yang nantinya akan menjadi pilot project.

Nilai ekomomi

Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai, nomadic tourism memiliki nilai ekonomi tinggi dan penanganannya juga relatif mudah. Hal itu menarik para pelaku industri pariwisata untuk mengembangkannya terutama untuk aksesibilitas dan amenitas karena konsep ini cepat memberikan keuntungan komersial.

Nomadic tourism, khususnya untuk amenitas seperti glamorous camping atau glamping banyak diminati traveller dunia sebagai salah satu pilihan selain hotel berbintang. Fasilitas glamping mulai dikembangkan di sejumlah destinasi unggulan di Tanah Air seperti Bali, Lombok, Jawa Barat, dan Belitung.

Hal itu dilakukan sebagai penunjang dari target Indonesia atas ketertarikan wisata di macanegara. Indonesia menargetkan 17 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan akan meningkat menjadi 20 juta wisman pada 2019.

Menurut data, jumlah backpacker atau wisatawan kelana di seluruh dunia mencapai 39,7 juta yang terbagi ke dalam 3 kelompok besar.

Flashpacker, atau digital nomad, berjumlah sekitar 5 juta orang. Golongan ini adalah golongan pengembara yang menetap sementara di suatu destinasi sembari bekerja.

Glampacker atau milenial nomad, berjumlah sekitar 27 juta orang. Mereka mengembara di berbagai destinasi dunia yang instagramable.

Sedangkan luxpacker atau luxurious nomad, berjumlah sebanyak 7,7 juta orang lebih. Mereka mengembara untuk melupakan hiruk-pikuk aktivitas dunia. Para luxpacker lebih menyukai fasilitas amenitas glamping di kawasan wisata alam, danau, pegunungan, pantai, atau sungai.***

sumber : pikiran-rakyat.com

powered by Surfing Waves
loading...

loading...
|
Baca Lagi
close